Silahkan menghubungi : KEP untuk pembelian buku ini

Setelah 70 Tahun Menuai Benih-benih Pemikiran Emmanuel Gerrit Singgih

oleh :

Share on :
 
Ide Singgih untuk membentuk Gereja sebagai persekutuan yang nyaman bagi warga Gereja dan masyarakat dikembangkan penulis pertama dengan menekankan model kepemimpinan gereja. Kepemimpinan Gereja tidak menekankan kuasa, tetapi pelayanan yang membangun kesetaraan dan solidaritas. Penulis kedua lebih menekankan gereja yang nyaman melalui karya Shalom dalam wujud pelaksanaan program-program gereja yang bertujuan menyejahterakan masyarakat–bukan hanya Gereja. Harapan dan upaya ini bisa diwujudkan bila dimuai dari pembentukan karakter bergereja dan penguatan dalam keluarga. Inilah yang ditekankan penulis ketiga. Singgih juga sangat mendorong Gereja untuk terbuka pada perkembangan teologi dan tradisi dalam kehidupan kekristenan. Ide ini dikembangkan penulis keempat dengan mendorong GPIB untuk memikirkan pelaksanaan Perjamuan Kudus untuk anak-anak. Semangat rekonsiliasi dalam Gereja yang sering disuarakan Singgih dikembangkan penulis kelima dengan menekankan semangat rekonsiliasi melalui penghargaan pada berbagai perbedaan yang ada dalam gereja dan masyarakat melalui sebuah proses inkulturasi damai dengan budaya dan tradisi yang ada di dalam dan di sekitar gereja. Rekonsiliasi juga bisa diwujudkan bila Gereja dan masyarakat didampingi dalam menghadapi masalahnya melalui sebuah proses konseling yang juga memberdayakan tradisi-tradisi hikmat yang hidup sejak lama dalam masyarakat Indonesia. Inilah yang dimaksudkan penulis keenam melalui tulisannya tentang pendampingan ke-Indonesiaan. Salah satu prinsip yang penting dalam membangun rekonsiliasi, yaitu empati. Sikap empati menolong Gereja bisa lebih peduli kepada orang lain. Sikap empati tidak hanya ditemukan penulis ketujuh pada diri Yesus Kristus, tetapi juga pada Gerrit Singgih. Gagasan Singgih tentang Gereja yang bersih dari korupsi dikembangkan penulis kedelapan tentang menjadi Gereja yang kontekstual melalui kesediaan melawan korupsi. Kepedulian Singgih akhir-akhir ini kepada alam dan lingkungan ditangkap penulis kesembilan dengan mengulas pentingnya membangun teologi air sebagai wujud perhatian Gereja kepada air sebagai salah satu sumber kehidupan yang penting. Perhatian Singgih terhadap agama-agama lain ditangkap penulis kesepuluh tentang Nahdlatul Ulama dengan Aslusunah Waljamah sebagai akar moderasinya sebagai bentuk melestarikan Islam. Ini semua hanya sedikit dari benih-benih pemikiran Gerrit Singgih yang bisa dituai dan disajikan dalam buku “Setelah 70 Tahun” ini.
ISBN 978-979-21-6267-7
Seri
Pengarang
Terbit 2019
Halaman 240
Berat 285
Dimensi 148 x 210
Tag SEJARAH
3