Silahkan menghubungi : KEP untuk pembelian buku ini

Rekah Puisi

oleh :

Share on :
 
Pertanyaan paling menggugat saat-saat ini adalah bagaimana sebuah masyarakat dibentuk? Oleh tradisi kebaikan, keindahan, dan kebenaran para penyusunnyakah: mulai dari mitos, kisah suci yang didongengkan, pantun, gurindam serta puisi-puisi yang dinyanyikan bersahut-sahutan bergantian? Ataukah oleh wacana kuasa politik, Bahasa monopoli kebenaran dari yang empunya kebenaran kuasa modal atau wewenang jabatan sehingga yang dihidupi tradisi rakyat jelata nyanyi suaranya semakin melenyap? Dalam debat pembentukan masyarakat oleh kuatnya bahasa kekuasaan ekonomis, kapital dan bahasa wewenang politik, maka yang muncul adalah bahasa-bahasa pertikaian kritik dan antikritik. Ditambah lagi semarak bahasa lantang kekuatan kekerasan menyebabkan diam dirinya Bahasa hati merenung dan berkidung. Terlalu banyak ruang-ruang kreasi kita dipenuhi dengan bahasa kritik dan terlalu sedikit diserukan Bahasa-bahasa “perubahan dibatasi sikap=sikap mentalitas dan cara pandang”. Terlalu banyak banjir Bahasa kritik dan sedikit sekali rintik gerimis Bahasa transformasi atau Bahasa yang mengajak merenung proses perubahan masyarakat kita dari “dalam” dari hati yang berkidung. Terlalu banyak prosa-prosa wacana dan kemarau kering puisi-puisi yang mengajak meneliti langkah-langkah perubahan hati. Bahasa puisi, kami gunakan lagi kali ini dengan bingkai keramaian prosa yang hiruk pikuk dari generasi yang lahir di Rahim ekonomi pasar dengan mal; konsumsi dan gaya hidup yang dibentuk oleh pencitraan tampilan eksotis bintang-bintang promosi dunia konsumsi dengan orientasi untung besar pasar-pasar yang saling menghubungkan diri lewat satu ikon tampilan citra penuh pesona di pangung-panggung eksotisme pertunjukan sebagai gaya hidup. Padahal, kita tahu sekali dalam sejarah peradaban negeri ini, masyarakat sejak awal menganyam indahnya kehidupan dalam perayaan-perayaan ritual; religiositas seni dan pemuliaan-pemuliaan hidup melalui sabda-sabda puitis yang disenandungkan di upacara-upacaran syukur atas alam, atas bumi, dan syukur atas cipta Sang Pencipta bumi pertiwi ini. Karena itu, ketika sekelompok anak muda dari generasi di atas masih bertekad penuh semangat untuk membaca hati puisi dan menafsirnya dalam senandung lagu, betapa langkah-langkah mereka ini menjadi bergetar dahsyat lantaran sadar sedang mencipta Bahasa musikalisasi hati yang merintih, hati yang berdoa, dan hati yang bernyanyi dalam harap di bumi Indonesia yang retak karena gempa, namun sekaligus merekah karena menjadi Rahim-rahim kelahiran-kelahiran anak-anak mudanya yang terus mencipta tak mau disedot habis oleh konsumsi dalam konsumerisme. Paradoks-paradoks bumi pertiwi yang tiap kali bersujud doa, namun sekaligus berdarah-darah dalam me;ampiaskan dendam terpendam karena budaya menghalus rupa namun tidak berikhtiar (berusaha) tulus hati dan tampilan tindak. Maka ziarah puisi yang bersenandung serta laku hidup yang mau selalu bernyanyi, memuliakan dan memperjuangkan harapan akan ibu pertiwi yang lebih saling sapa memanusia dan saling merengkuh dalam kemanusiaan yang utuh semogalah menjadi nyanyi rekah lembah yang menautkan paradoks-paradoks kita sesaudara sebangsa untuk menapaki jalan sunyi puisi yang sekaligus merupakan jalan tantangan music peradaban.
ISBN 978-979-21-6223-3
Seri
Pengarang
Terbit 2019
Halaman 96
Berat 130
Dimensi 148 x 210
Tag BAHASA
3