Silahkan menghubungi : KEP untuk pembelian buku ini

Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas

oleh :

Share on :
 
Buku ini berhasil memunculkan fakta-fakta baru yang menarik dan belum terungkap sebelumnya tentang siapa dan apa yang telah dilakukan GKR Hemas. Buku ini juga memunculkan figur-figur baru yang penting dan memberi pandangan kritis terhadap Bu Ratu. GKR Hemas itu laksana Bugenvil di Bejana Pualam kata Kiai Jazir, tokoh kharismatik dari masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Menurut Kiai, yang dikenal fasih berbicara dan kritis ini, bunga Bugenvil kalau tumbuh di tempat biasa, di pinggir jalan misalnya, maka ia akan menjadi biasa-biasa saja, tetapi kalau medianya terbatas, di bejana Pualam, maka Bugenvil akan tumbuh dengan sangat cantik dan mempesona. GKR Hemas, lanjutnya, sebagai permaisuri raja Yogya, hidup dalam kondisi di mana Keraton sedang mengalami transisi atau sedang galau, banyak nilai dan tradisi yang membatasi ruang gerak beliau. Keraton, sebagai institusi kerajaan yang relatif masih eksis tentu sarat dengan nilai dan tradisi yang seringkali bias gender. Namun himpitan nilai dan tradisi yang beliau alami itu telah memunculkan dirinya menjadi seorang permaisuri yang berbeda dari permaisuri-permaisuri sebelumnya. Himpitan itu telah memaksanya berpikir keras dengan bergerak cepat dalam setiap langkah. Tantangan terberat yang dihadapi Bu Ratu adalah lingkungan Keraton yang masih adanya stereotipe yang mensubordinasi kedudukan perempuan. Meskipun sebagai permaisuri, GKR Hemas, dalam upacara adat, harus membiasakan dirinya berjalan di belakang Ngarsa Dalem, tidak di sampingya. Bagi orang luar Keraton, kiprah Bu Ratu di DPD RI mungkin sesuatu yang biasa dan positif, tetapi bagi orang dalam pada awalnya sangat sulit diterima. Banyak orang yang mempertanyakan ketika pertama kali Bu Ratu menyampaikan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI. Itu semua, membuktikan bahwa budaya di masyarakat kita masih patriarki. Mengapa akhirnya Bu Ratu sukses menjadi anggota bahkan pimpinan di DPD RI? Di samping karena adanya pengertian dan dorongan yang luar biasa dari sang suami, kesuksesan itu juga terletak pada kharisma dan kecerdasan sosial Bu Ratu sendiri dalam berkiprah dan akhirnya menyadarkan banyak orang sehingga posisinya sekarang ini, sebagai pimpinan DPD RI, justru dilihat positif, sebagai representasi Keraton di tingkat nasional. Menariknya, meskipun beliau sukses di Jakarta sebagai pimpinan DPD RI, tetapi beliau masih sangat menjaga adat dan tradisi Keraton, seperti berbusana Jawa dan mengikuti hampir semua kegiatan budaya di Keraton.
ISBN 978-979-21-5091-9
Seri
Pengarang
Terbit 2016
Halaman
Berat 370
Dimensi
Tag ILMU SOSIAL
3